Zst.. Aneh tentang srumbung, baca !!!

On Kompas.com 2 jan 2009

Cerpen Rita Zahara

“Piye Tin? Kamu mau nrima kerjaan ini? Coba kamu pikir-pikir lagi, daripada kamu bertani, dari pagi sampai sore setiap hari  kamu ke sawah, tapi toh enggak bisa nyukupin kebutuhan keluargamu. Apalagi kamu itu cuma buruh tani ,”Pak De Kusno berusaha meyakinkan Sutini agar menerima pekerjaan yang ia tawarkan.

Mata Sutini berkaca-kaca, wajahnya pusat pasi, hatinya miris. Ia sadar apa yang dikatakan Pak De Kusno benar. Sudah 5 tahun menjadi buruh tani , kerja keras banting tulang setiap hari di sawah tidak mencukupi kebutuhan keluarganya. Penghasilannya hanya cukup untuk Kebutuhan makan, itupun makanan yang sangat sederhana. Tiwul dan gaplek adalah makanan utama sehari-hari keluarga Tini atau nasi campur jagung. Sesekali memang bisa makan enak seperti ikan goreng, itupun ikan-ikan kecil  hasil tangkapan Pak Lik Jono di sungai.

Air mata Tini jatuh tetes demi tetes mengenai pakaiannya. Dengan terpaksa ia menerima tawaran pekerjaan itu. Menjadi pembantu rumahtangga di kota. Dengan begitu ia harus meninggalkan bapaknya yang terserang tubercolusis, ibunya yang menderita depresi karena adiknya Suriyem yang menjadi pembantu rumahtangga pada majikan Cina tidak diketahui keberadaannya setelah kerusuhan Mei 1998 di Jakarta. Beritanya tidak jelas, sementara tidak ada usaha untuk mencari Suriyem lebih lanjut karena tidak ada biaya untuk ke Jakarta. Sedangkan dua orang adiknya menderita kekurangan gizi.

Dengan kepedihan yang amat mendalam Sutini pamit pada orangtua, adik-adiknya, dan Pak Lik Jono adik ibu Tini yang juga bekerja sebagai buruh tani.

“Tini percaya, Pak Lik Jono bisa merawat bapak yang sedang sakit, ibu, juga adik-adik”.

“Bapak, Ibu, Tini nyuwun pamit, nyuwun pangestu, “Tini mencium tangan kedua orangtuanya dengan linangan airmata.

“Nduk, Sing ngati-ati, yo di tempat kerja, jangan malas-malas, kerjanya yang rajin,” Bapak Sutini menasehati dengan suara terputus-putus sambil terbatuk-batuk sedangkan dua orang adik dan ibunya hanya bisa menatap kosong mengantar kepergian Tini. Suasana mengharu biru, mengantar kepergian Tini untuk mengadu nasib di kota.

Sudah siap Tin, ayo kita berangkat nanti kemalaman sampai di kota, Pak De Kusno segera menyiapkan sepeda motor tuanya.

Senin pagi, jam baru menunjukkan pukul tujuh. Udara dingin, kabut tipis di balik pegunungan masih melintas. Tini meninggalkan keluarga dalam duka nestapa.

Menjadi pembantu rumahtangga, tidak pernah terbayangkan oleh Tini. Sejak kecil sampai kini berusia delapan belas tahun, ia tidak pernah pergi keluar desa. Ia tidak tahu Yogya seperti apa, apalagi pekerjaan sebagai pembantu rumahtangga. Bahasa Indonesia pun tidak lancar. Delapan belas tahun hidup bersahabat dengan pegunungan dan sawah, bekerja menjadi  buruh tani  mengikuti jejak keluarga.

***

Pak De Kusno mengantarkan Tini pada seorang ibu berbadan sintal, wajahnya tampak terawat dan dihiasi berbagai warna di wajah. Kuku di jari-jarinya panjang dicat merah tua. Bibirnya seperti disuntik silicon dan terbelah dua  menebal di bagian bawahnya. Suaranya agak serak,  menyambut kedatangan mereka .

“Monggo-monggo  Mas Kusno!”  ini  Mbak Tininya ya, masuk!”

Ibu itu menyuruh masuk Tini sambil merangkul pundak tini. Pak De Kusno menghampiri ibu itu, lalu meninggalkan Tini di ruang tamu. Mereka tampak bercakap-cakap dengan nada berbisik beberapa saat. Mereka keluar lalu menghampiri Tini.

“Mbak Tini, kalau kerja disini harus sabar dan tekun, apalagi masih baru, harus banyak belajar. ” Ibu itu menasehati dengan tutur kata yang halus sambil menepuk-nepuk bahu Tini.

“Iya Tin, harus sabar, baru bisa memperoleh dan menikmati hasil”. Pak De Kusno menyambung ucapan Ibu itu. .

“Pak De pamit  yo Tin, nanti seminggu atau dua minggu lagi Pak De jemput. Pak De Kusno berpamitan. Sepeda motor tuanya digiring keluar halaman, baru dihidupkan mesinnya. Suara mesin motor yang sudah tua  itu lambat laun hilang, Pak De Kusno tak terlihat lagi. Tini menatap kosong kepergian Pak De Kusno, ia percaya penuh dengannya, orang yang dikenal ramah dan suka menolong menurut cerita orang Dusun Sruntul dan Dusun Srumbung tempat Tini menghabiskan hari-harinya selama ini. .

“Ayo, Tin masuk, bersih-bersih badan dulu biar kelihatan seger, setelah itu makan!” Ibu itu menyuruh Tini dengan ketus, mimik wajahnya jauh berbeda dari yang semula yang Tini tahu. Tini memasuki ruang mandi yang cukup bagus dibanding tempat mandi di rumahnya yang berlantai tanah dan bebatuan serta bilik bambu. Tini melihat beberapa orang wanita sebayanya yang juga bersiap-siap mandi. Ada juga beberapa wanita berusia empat puluh tahunan yang mengantri mandi.

Bagai melihat sesuatu yang aneh ketika melihat mereka, Tini terbelengoh, melihat kulit tubuh mereka yang mulus-mulus. Tini melihat kulit badannya yang kehitam-hitaman sambil membandingkan dalam hati dengan mereka yang saling berceloteh.

Meskipun tidak pernah mendapat perawatan kecantikan secara khusus, Tini memang  termasuk manis dan enak dilihat, wajahnya bulat, matanya besar dengan bulu mata yang lentik, kulitnya coklat tua, ada beberapa panu melingkar di bagian punggungnya. Ia sering tersengat sinar matahari ketika bertani dan keringatnya yang bercucuran nyaris tak pernah dibasuh. Ia membiarkan keringatnya mengering dengan sendirinya.

Setelah mandi Tini dipersilakan makan oleh seorang ibu tua yang sepertinya selalu menyiapkan makan untuk para pekerja disitu.. Dengan ramah ibu itu menyambut Tini sambil memperkenalkan diri. Nasi dan tempe goreng ditambah sambal terhidang di depan Tini. Tini tidak bernafsu untuk makan, ia teringat keluarganya yang hampir setiap hari makan tiwul dan gaplek. Hati Tini semakin miris, bila teringat kedua orang adikknya yang semakin kurus karena kurang gizi. Ia tetap harus memakan hidangan yang sudah disiapkan sebagai bentuk penghormatan terhadap tuan rumah.

Malam kian larut, Tini tak bisa tidur. Ia melambungkan pikiran bersama keluarganya di desa. Gelap dan sunyi biasanya suasana malam yang menemani, kini ada banyak wanita bertubuh mulus dan berbadan sintal dengan gaya yang sangat tak diakrabinya menemani malam malam Tini di Yogya.

***

Tini bangun tersentak, ia kesiangan karena biasanya bangun jam 4 pagi. Ia bergegas masuk kamar mandi lalu terkaget-kaget melihat wanita-wanita di sekitarnya masih tidur pulas padahal sudah jam 7. Udara masih terasa dingin, tetapi ia terbiasa mandi sebelum berangkat ke sawah pukul setengah enam pagi. Ibu setengah baya yang juga tampak baru bangun itu menghampiri Tini lalu menyapa dengan nada tinggi, “sudah bangun Mbak? Jangan lupa nanti bersih bersihin juga ruangan ini!

“Disini kalau bangun ya jam 7 atau jam 8, kadang-kadang jam 12 siang karena kerja sampai malam. Nanti kamu juga terbiasa, harus siap kerja sampai malam. Tin, kamu harus siap setiap Malam Suro Jum’at Pon, melayani Pak Toni”. Ibu  itu memberi tahu Tini dengan tutur kata yang halus.

“Setiap malam itu Pak Toni datang. Tini hanya mengangguk, ia tidak mengerti apa yang dimaksud melayani oleh ibu tadi.

Dua hari Tini dipercantik dengan berbagai ramuan tradisional dan polesan make-up. Mulai dari lulur beras kencur, kunyit untuk badan, cem-ceman urang-aring untuk rambut, tato alis sampai mandi kembang tengah malam dilakukan sebagai prasyarat menjadi bekerja di tempat itu. Hampir satu bulan Tini melakukan perawatan kecantikan. Kini Tini sudah sejajar dengan wanita-wanita sebayanya yang lain. Kulitnya sudah sedikit mulus walau ada beberapa panu yang masih terlihat dipunggungnya. Satu malam lagi malam Suro, Jumat Pon. Jantung Tini berdegub-degub dan semakin kencang, pikirannya melayang, ia akan melakukan apa malam Suro nanti. Tanyanya dalam hati.

Malam Suro datang, ibu  itu memperkenalkan Tini dengan Pak Toni. Tini hanya mengangguk karena tidak terlalu mengerti apa yang mereka ucapkan. Pak Toni, laki-laki berperut buncit, berambut kucai, bermata sipit, kulitnya putih bersih seperti perawakan Cina,  tutur katanya santun dan lembut seperti orang yang sudah sangat mengenal Tini. Pak Toni mengajak Tini memasuki areal perbukitan, daerahnya memang jauh dari tempat Tini dijemput. Satu-persatu anak tangga dilalui, dan tibalah mereka di sebuah tempat dimana ritual seks itu dilakukan. Tini diam seribu bahasa, ia nampak bingung, tak ada yang bisa dilakukan. Dalam ketakberdayaan suhu badannya naik, napasnya tersengal-sengal lalu menangis. Ia hendak berlari tetapi terasa terkungkung oleh kekuatan yang tak bisa terelakkan. Pak Toni bertutur begitu sopan, ia meminta Tini untuk melakukannya sepenuh hati.

“Dek Tini, mau kan menolong saya? Tanya lelaki itu sambil mengusap lembut rambut Tini yang menjulur panjang. Menolong, menolong apa?” Tanya Tini dalam hati karena ia tak lagi bisa bicara.  Pak Toni sadar sekali jika pasangan ritual seksnya adalah orang baru dan masih terlalu suci untuk melakukan itu. Pak Toni pun baru pertama melakukannya setelah berpikir 1000 kali dan mendapat persetujuan dari teman-temannya yang pernah melakukan hal serupa. Dilihatnya Anton teman bisnisnya yang semakin sukses setelah melakukan ritual tersebut. Dia juga melihat Toni, yang langsung mengembangkan sayap usahanya di Pulau Batam dengan omset miliaran rupiah setelah melakukan hal serupa.. Pak Toni sumringah, baru sekali melakukan ritual seks dengan Tini, sudah mendatangkan hasil. Dua hari sesudahnya, tendernya sukses bahkan beberapa mega proyek siap menanti untuknya..

Jumat Pon kedua, Pak Toni kembali menemui Tini. Kulit Tini semakin mulus tetapi badannya bertambah kurus. Ia masih belum bisa melupakan apa yang dilakukan Pak Toni. Delapan lembar uang seratus ribuan yang diberikan Pak Toni pada malam Suro pertama tahun lalu belum ia sentuh apalagi digunakan. Malam kedua Pak Toni memberi dua puluh lembar uang seratus ribuan sebagai ucapan terimakasihnya pada Tini. Tini tidak bergeming, ia sudah mati rasa. Namun, uang itu tetap diterima.

Menunggu malam Jumat pon berikutnya sungguh menyiksa hari-hari Tini. Ia tidak hanya menjadi pasangan ritual seks dengan Pak Toni, tetapi juga dijadikan tukang pijat Plus oleh Bu Karti, ibu setengah baya yang selama ini ia kenal sering mengatur pekerjaan itu.

Lembar demi lembar uang seratus ribuan dari Pak Toni ia kumpulkan. Uang dari Pak Toni ternyata jumlahnya jauh lebih besar dibanding penghasilannya sebagai tukang pijat plus. Tini Pulang ke Dusun Srumbung dijemput sepupuhnya Pak De Kusno dan Mas Pulung. Ia bisa sedikit menghirup udara bebas, meski ada rasa kesal karena merasa ditipu Pak De Kusno. Setibanya di rumah ia tak sabar melihat keluarganya. Bapaknya masih minum obat tradisional untuk mengurangi batuk-batuk. Ibunya sudah gila setelah mengetahui dengan pasti Suriyem tewas terbakar bersama majikannya saat kerusuhan Mei 1998, sedangkan adiknya sudah ada yang kelihatan membaik kondisi badannya. Kelihatan agak gemuk karena selalu dicarikan ikan atau belut untuk digoreng oleh Pak Lik Jono.

Sutini pulang membawa beberapa pakaian untuk semuanya. Dua orang adiknya dibelikan masing-masing tiga pasang pakaian. Pak Lik Jono dibelikan baju Surjan dan kaos oblong putih. Ibunya dibelikan kain dan kebaya, bapaknya dibelikan kain sarung dan kopiah. Ia juga membelikan makanan yang enak-enak. Ada Bakpia Pathuk, daging bebek panggang dan beberapa makanan yang jarang sekali dimakan keluarganya.  Tini membawa bapaknya ke Puskesmas dan membawa ibunya ke Mbah dukun yang biasa mengobati orang terserang gangguan jiwa. Pak Lik Jono pun diberi uang empat ratus ribu rupiah sebagai ucapan telah merawat keluarganya.

Sehari di rumah, Tini menjadi bahan perbincangan tetangga. Berita kesuksesannya menyebar ke seluruh Dusun Srumbung dan sekitarnya. Dengan segala keluguannya, ia tetap merasa Tini yang dulu yang selalu rindu untuk mencangkul tanah dan menanam padi. Di lihatnya pematang sawah, ia lama termenung di gubuk sawah itu. Ya, itu sawah Pak Broto yang sudah ia garap selama 5  tahun menjadi saksi bisu perjuangan Tini menghidupi keluarganya walau selalu dalam keadaan serba kekurangan.

Kini ia menjadi mati dalam hidup, tak ada kebahagiaan terlintas dalam hatinya. Ia ditampar gelombang yang tak pernah ia sangka dan kebahagiaan yang selalu ia dengar dari teman-teman di tempat kerjanya itu. Dilihat adiknya yang sumringah mengenakan pakaian baru yang ia beli, ia lihat bapaknya yang semakin pulih. Ada sedikit bahagia sejenak hinggap di relung hati Tini ketika melihat perubahan keluarganya .

Sudah tujuh hari Tini di rumah. Ia mengurus bapak, mengantarkan ibunya ke Mbah Roso dan menemani dua orang adiknya bermain di sawah. Saat yang begitu menyenangkan dimana selama ini ia begitu mengakrabi alam sekitar dusunnya.

Penduduk Dusun Srumbung sudah semakin ramai membicarakan Tini yang sukses dan Tini adalah anak gadis pertama dari dusun itu yang pernah keluar kampung dengan kesuksesan yang dianggap luar biasa.

***

Malam satu Suro sudah semakin dekat, jantung Tini semakin berdegub-degub, badannya mulai panas dan bayang-bayang Pak Toni menghantui. Ia ingin berteriak tetapi tak kuasa dengan suasana duka yang baru melanda. Bapaknya menghembuskan napas terakhir setelah  minta dinaikkan haji. Tini semakin galau, Mas Pulung akan menjemput   Tini ke kota dan ia akan menjadi kerbau yang siap dicocok hidungnya dan terpasung dalam buaian masa depan yang begitu menjanjikan sekaligus  menawarkan ketidakpastian. Dua hari sebelum malam itu, Tini pergi meninggalkan rumah. Tidak ada yang mengetahui kepergiannya. Sutini tidak meninggalkan pesan apapun.

Musim seakan tiba-tiba menjadi berubah, kadang langit tampak cerah dan tiba-tiba menjadi kelam padahal bukan musim hujan. Setiap sore semburat  merah mentari diiringi udara yang kian mendingin mengantarkan kepergian Tini yang sudah seminggu menghilang tanpa jejak. Setiap senja selalu ada sekelompok burung yang datang lalu berputar-putar mengelilingi rumah Tini. Seolah ada tanda yang ingin disampaikan dan semua orang menerka banyak hal. Kini, merahnya mentari sore tidak menjadi senja yang indah karena seluruh warga Dusun Srumbung menjadi gempar. Tini ditemukan menggantung diri di atas pohon nangka dekat sungai. Nyaris tak terlihat karena ditutupi rerumputan yang panjang membumbung ke atas. Malam menjadi selalu mencekam dusun itu, tak ada lagi cerita Tini yang sempat menjadi buah bibir cerita kesuksesan.

Setting nya kok srumbung, jogja ya….gw sebagai warga srumbung ngeri juga dengan cerpen ini…….

gimana dengan kamu???

5 Responses to “Zst.. Aneh tentang srumbung, baca !!!”

  1. ngesti Says:

    waduhh… ngeri ya cerpennya…setting srumbung dan jogja yang bikin ngeri

  2. gundul Says:

    tapi ini lak cuma cerpen to ?
    soalnya aku duluuuuuuuu punya temen yang rumahnya srumbung trus nek malem suepi tenan je.
    Ning sekarang wis rame kali,trus itu pakde Kusno nya kemana kok ndak di laporke polisi Srumbung to………wak ka ka ka ka
    Hallo mbak ngesti………..kok mung dewekan iki tak kancani le comment

  3. tika Says:

    Srumbung mana to mbak ngambil setting cerpennya? cs q ya orang srumbung d lereng merapi. sayang lahan sawah udah dikonversi jadi lahan salak. udah dingin tambah singup, kalau malem hmm tambah tintrim.

  4. Naphee' Says:

    Srumbung nek sink bagian Sudimoro lak ura serem…
    hehehe… :p

  5. Ndoro Seten Says:

    Saya orang asli Srumbung lereng Merapi juga lho….tapi kayane cen nggak ono Tini kuwi!


Leave a Reply